News Palu – Mantan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, melakukan peninjauan langsung terhadap pelaksanaan Program Mawas Diri Berbasis Gotong Royong (MBG) di sejumlah titik di Kota Palu, Sabtu (23/8/2025). Program ini menjadi salah satu bentuk penguatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan berbasis kearifan lokal.

Apresiasi terhadap Semangat Kebersamaan
Dalam kunjungannya, Longki Djanggola menyampaikan apresiasi atas semangat kebersamaan warga Palu yang terlibat aktif dalam program tersebut. Ia menilai MBG mampu membangkitkan kembali nilai gotong royong yang menjadi fondasi utama kehidupan sosial masyarakat Sulawesi Tengah.
“Program ini bukan sekadar membersihkan lingkungan atau membangun fasilitas, tetapi juga memupuk rasa persaudaraan. Inilah roh pembangunan yang harus kita jaga,” ujar Longki.
Baca Juga : Longki Djanggola Dampingi Warga Temui Kanwil ATR/BPN Sulteng
Fokus pada Kebersihan dan Infrastruktur Dasar
Program MBG di Palu menitikberatkan pada dua aspek utama, yakni peningkatan kebersihan lingkungan dan perbaikan infrastruktur dasar. Sejumlah warga terlihat bahu-membahu membersihkan drainase, memperbaiki jalan setapak, hingga melakukan penanaman pohon di sekitar kawasan pemukiman.
Menurut Longki, langkah-langkah sederhana ini memiliki dampak besar dalam menciptakan lingkungan sehat sekaligus mengurangi risiko bencana, khususnya banjir dan longsor.
Dukungan Pemerintah dan Partisipasi Warga
Longki juga menekankan bahwa keberhasilan program MBG sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah daerah, lembaga masyarakat, dan warga. Ia mendorong pemerintah Kota Palu untuk terus memfasilitasi kebutuhan masyarakat agar program ini berkelanjutan.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa partisipasi warga. Begitu pula sebaliknya, warga membutuhkan dukungan regulasi dan fasilitas dari pemerintah. Sinergi inilah yang akan melahirkan hasil nyata,” tegasnya.
Harapan untuk Perluasan Program
Menutup kunjungannya, Longki berharap program MBG dapat diperluas ke seluruh wilayah Sulawesi Tengah. Menurutnya, model pembangunan berbasis gotong royong ini bisa menjadi solusi alternatif di tengah keterbatasan anggaran dan tantangan pembangunan daerah.
“Kalau program ini konsisten dijalankan, saya optimis masyarakat akan merasakan manfaat langsung, baik dari sisi lingkungan maupun kualitas hidup,” pungkasnya.









